Kamis, 22 September 2011

Sistem Koordinat Dan Proyeksi Peta

 Sistem Hitungan Geodesi

Geoid
Geoid adalah salah satu bidang ekuipotensil gaya berat yang berimpit dengan permukaan air laut rata-rata diseluruh bumi (Vanicek and Krakiwsky, 1982)
Ellipsoid
Sebagaimana telah dijelaskan diatas, untuk keperluan hitungan Geodesi iperlukan suatu bidang analitis yang mempunyai bentuk dan ukuran mendekati geoid. Bidang yang teratur , yang bentuk dan ukuanya mendekati geoid adalah bidang ellipsoid

Penentuan Ellipsoid
Metode-metode yang digunakan untuk menentukan bentuk dan ukuran dari ellipsoid adalah sebagai berikut (Purworahardjo, 1986) :
• Pengukuran busur di muka bumi (metode Astro Geodesi)
• Pengukuran Variasi gravitasi dimuka bumi (metode Astrogravimetrik)
• Pengukuran medan gravitasi bumi dari orbit satelit buatan


Sistem Koordinat
Sistem koordinat lokal
• Sistem Koordinat Polar
• Sistem Koordinat Kartesian
Sistem Koordinat Global
• Sistem Koordinat Astronomis (Lintang Astronomis dan Bujur Astronomis) bidang terhadap Geoid
• Sistem Koordinat Geodetik (Lintang geodetic dan Bujur Geodetik) bidang terhadap ellipsoid
• Sistem Koordinat Kartesian Tiga Dimensi

Gambar Sistem Koordinat Geodetik
• Lintang Geodetik (L) dari suatu titik adalah besar sudut lancip yang dibentuk oleh arah normal pada ellipsoid dengan bidang ekuator geodetic
• Bujur geodetic (B) yaitu sudut yang dibentuk antara bidang meridian dari titik tersebut dengan bidang meridian nol BIH
• Titk geodetik / geometrik (h) didefinisikan sebagai jarak dari bidang ellipsoid kea rah normal sampai titik tinngi yang di maksud

Sisitem Koordinat Kartesian Tiga Dimensi
Posisidari suatu titik dinyatakan dalam besaran X,Y dan Z. dengan arah arah dari sumbu-sumbu koordinat didefinisikan sebagai berikut
• Sumbu Z berimpit dengan sumbu rotasi bumi, yang didefinisikan sebagai CTP (Conventional Terrestrial Pole)
• Sumbu X mengarah ke meridian nol, yaitu meridian nol Greenwich yang ditetapkan oleh BIH (Bureau International de l’Heure) yang terletak pada bidang ekuator ellipsoid.
• Sumbu Y adalah sumbu yang terletak pada bidang ekuator serta tegak lurus terhadap sumbu X dan Z berdasarkan aturan tangan kanan

Datum Geodetik
• Datum Geodetik adalah titik asal dari sistem perhitungan dan permukaan tempat dilakukannya perhitungan-perhitungan (Rais, 1975)
• Datum geodetik adalah himpunan parameter parameter yang menggambarkan hubungan antara ellipsoid local dan sistem refrensi geodetik global (Seeber, 1993)

Pendefinisian Datum Konvensional
• Ditetapkan parameter ellipsoid refrensi yang dipilih yaitu setengah sumbu panjang (a) dan pegepengan (f)
• Wllipsoid refrensi menyinggung geoid pada satu titik yang telah ditentukan (titik datum)
• Pada titik datum, didefinisikan bahwa lintang geodetik (L), bujur geodetik (B) dan Azhimuth geodetik (A) sama lintang astronomi, bujur astronomi san azimuth astronomi serta tinggi suatu geometric yaitu tinggi titik diatas ellipsoid (h), sama dengan tinggi di atas geoid (H) atau dengan perkataan lain undulasi (N) pada titik datum sama dengan nol.
• Sumbu putar ellipsoid dan bidang meridian nol geodetik sejajar sumbu menengah bumi dan bidang nol astronomi.

Pendefinisian Datum Modern
• Parameter dari ellipsoid refrensi yang dipilih, yaitu setengah sumbu panjang (a) dan pegepengan (f).
• Parameter translasi (ΔX, ΔY, ΔZ) titik asal salib sumbu X,Y dan Z terhadap geocenter (pusat massa bumi) atau titik asal satu CTS (conventional Terrestrial System) tertentu
• Parameter rotasi (Ex,Ey,Ez) sistem salib sumbu X,Y dan Z terhadap CTS
• Faktor skala (s)

Datum yang digunakan di Indonesia
Datum Genuk
Bidang hitungan yang digunakan adalah permukaan ellipsoid Bessel 1841 yang mempunyai dimensi sebagai berikut
Setengah sumbu panjang (a) = 6377397.155 m
Pegepengan (f) = 1/299.15
Datum Moncong Lowe
Datum Gunung Serindu
Datum Indonesia 1974 (DI’74)
Speroid / ellipsoid yang diadopsi ialah SNI (Speroid Nasional Indonesia), yaitu suatu modifikasi (pembulatan parameter) ellipsoid GRS’67 (Geodetic Reference System 1967). Parameter parameter ellipsoid SNI ialah :
Setengah sumbu panjang (a) = 6378160.000 m
Pegepengan (f) = 1/298.247
Datum Indonesia 1995 (DI’95) = WGS’84
Parameter parameter dari datum Indonesia 1995 ini sama dengan parameter parameter datum WGS 84, yang mirip parameter GRS 80 (Geodetic Reference System 1980), yaitu sistem referensi Geodesi yang diperkenalkan oleh international Association of Geodesy (IAG) pada tahun 1979. Adapun parameter parameter yang diakai untuk pendefinisian dari datum DI95 adalah Subarya dan Matindas, 1995) :
Setengah sumbu panjang (a) = 638137.000 m
Setengah sumbu pendek (b) = 6356752.3142 m
Pegepengan (f) = 1/298.257223563

Proyeksi Peta
Proyeksi peta adalah teknik teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin. Dalam proyeksi peta diupayakan sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik titik di muka bumi dan di peta.

Sistem proyeksi peta dipilih untuj menyatakan posisi titik titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar yang nantinya bias digunakan untuk perhitungan jarak dan arah antar titik.
Menyajikan secara grafis titik titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar yang selanjutnya bias digunakan untuk membantu studi dan pengambilan keputusan berkaitan dengan topografi, iklim, vegetasi, hunian dan lain-lainya yang umumnya berkaitan dengan ruang yang luas

Pertimbangan Ekstrinsik
Bidang Proyeksi yang digunakan
Proyeksi Azimutal / zenital : bidang proyeksi bidang datar
Proyeksi kerucut : bidang proyeksi bidang selimut kerucut
Proyeksi silinder : bidang proyeksi bidang selimut silinder

Persinggungan bidang proyeksi dengan pola bumi
Proyeksi tangent : bidang proyeksi bersinggungan dengan pola bumi
Proyeksi Secant : bidang proyeksi berpotongan dengan pola bumi
Proyeksi “Polysuperficial” : banyak bidang proyeksi

Posisi sumbu simetri bodang proyeksi terhadap sumbu bumi
Proyeksi normal : Sumbu simetri bidang proyeksi berimpit dengan sumbu pola bumi
Proyeksi miring : Sumbu simetri bidang proyeksi miring terhadap sumbu pola bumi
Proyeksi transversal : Sumbu simeri bidang proyeksi terhadap sumbu pola bumi

Pertimbangan Instrinsik
Sifat asli yang dipertahankan :
Proyeksi Ekuivalen : Luas daerah yang pertahankan : Luas pada peta setelah disesuaikan dengan skala peta = luas asli pada muka bumi
Proyeksi Konfrom : Bentuk daerah dipertahankan, sehingga sudut sudut pada peta dipertahankan sama dengan sudut sudut dimuka bumi
Proyeksi Ekuidistan : Jarak antar titik di peta setelah disesuaikan dengan skala peta sama dengan jarak asli di muka bumi
Cara penurunan peta
Proyeksi geometris : Proyeksi perspektif atau proyeksi sentral.
Proyeksi Matematis : Semua di peroleh dengan hitungan matematis
Proyeksi Semi Geometris : Sebagian peta diperoleh dengan cara proyeksi dan sebagian lainya diperoleh dengan cara matematis

Pertimbangan Pemilihan Proyeksi
• Ditorsi pada peta berada pada batas batas kesalahan grafis
• Sebanyak mungkin lembar peta yang bias digabungkan
• Perhitungan plloting setiap lembar sesederhana mungkin
• Plotting manual bias dibuat dengan cara semudah mudahnya
• Menggunakan titik control sehingga posisinya segera bias diplot

Jenis Proyeksi dan Kedudukan Terhadap Bidang Datum


Proyeksi Polyeder
Sistem proyeksi kerucut, Normal, Tanggent dan Konfrom

Keuntungan Proyeksi Polyeder :
Karena perubahan jarak dan sudut pada satu bagian derajat 20’ x 20’, sekitar 37 km x 37 km bias diabaikan, maka proyeksi ini baik untuk digunakan pada pemetaan teknis skala besar.
Kerugian proyeksi Polyeder :
• Untuk pemetaan daerah luas harus serring pindah bagian derajat, memerlukan transformasi koordinat.
• Grid kurang praktis karena dinyatakan dalam bentuk kilometer fiktif
• Tidak praktis untuk skala kecil dengan cangkupan luas
• Kesalahan arah maksimum 15 m untuk jarak 15 km

Proyeksi UTM
UTM merupakan sistem proyeksi Silinder, Konform, Secant, Tranversal ketentuan selanjutnya :
• Bidang silinder memotong bola bumi pada dua buah meridian yang disebut meridian standar dengan factor skala 1
• Lembar Zone 6º dihitung dari 180 º BB dengan nomor zone 1 hingga ke 180 º BT dengan nomor zone 60. tiap zone mempunyai meridian tengah sendiri
• Perbesaran di meridian tengah = 0.9996
• Batas paalel tepi atas dan tepi bawah adalah 84 º LU dan 80 º LS


Proyeksi dari bidang datum ke bidang proyeksi


Sistem Grid UTM Global


Zone UTM Indonesia


TM-3 º


Ketentuan TM-3 º
Ketentuan sistem proyeksi peta TM-3 º :
• Proyeksi : TM dengan lebar zone 3 º
• Sumbu pertama (Y) : Meredian Sentral dari seiap zone
• Sumbu kedua (X) : Ekuator
• Satuan : Meter
• Absis semu (T) : 200 000 meter + X
• Ordinat semu 1 500 000 meter + Y
• Faktor skala pada meridian sentral : 0.9999

Tidak ada komentar:

Posting Komentar